Banyak orang memiliki keinginan mulia untuk memberangkatkan orang tua ke Tanah Suci sebelum mereka berangkat sendiri. Namun, dalam Islam, terdapat aturan yang sangat jelas mengenai urutan prioritas ibadah ini. Memahami apakah harus menghajikan orang tua atau diri sendiri terlebih dahulu adalah kunci agar ibadah yang Anda lakukan sah dan sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
Hukum Dasar: Sempurnakan Kewajiban Pribadi
Berdasarkan tinjauan syariat, seseorang diwajibkan untuk menunaikan haji bagi dirinya sendiri sebelum ia menghajikan orang lain. Hal ini bukan berarti kita mengabaikan bakti kepada orang tua, melainkan karena haji adalah kewajiban individu (fardhu ain). Jika Anda sudah memiliki kemampuan finansial, maka kewajiban tersebut melekat pada diri Anda terlebih dahulu.
Ketentuan ini bersumber dari hadis sahih tentang seseorang yang ingin menghajikan kerabatnya bernama Shubrumah. Rasulullah ﷺ bertanya apakah orang tersebut sudah berhaji untuk dirinya sendiri. Ketika dijawab belum, Nabi ﷺ memerintahkan, “Berhajilah untuk dirimu dahulu, baru kemudian untuk Shubrumah.” Sebagai agen perjalanan yang mengedepankan edukasi jemaah, Duha Wisata selalu menyarankan calon jemaah untuk mengikuti tuntunan ini agar ibadahnya sempurna.
Mengapa Diri Sendiri Harus Menjadi Prioritas?
Ada beberapa alasan logis dan syar’i mengapa urutan ini tidak boleh dibalik:
-
Syarat Sah Badal Haji: Menghajikan orang lain (badal) dianggap tidak sah jika sang pembadal belum pernah menunaikan haji untuk dirinya sendiri.
-
Kewajiban yang Tak Bisa Diwakilkan: Selama Anda mampu secara fisik dan finansial, kewajiban rukun Islam ke-5 ada di pundak Anda.
-
Menghindari Keraguan Ibadah: Dengan berangkat sendiri terlebih dahulu, Anda memiliki pengalaman langsung yang akan sangat berguna saat mendampingi atau mengurus haji orang tua di kemudian hari.
Penting untuk ditekankan bahwa mendahulukan diri sendiri dalam perkara wajib bukanlah bentuk durhaka. Justru, ini adalah bentuk kepatuhan kepada perintah agama agar kita tidak menunda-nunda rukun Islam yang sudah mampu kita jalankan.
Strategi Bijak Bagi Anda yang Ingin Berbakti
Jika Anda merasa berat hati berangkat sendirian, ada solusi yang bisa dipertimbangkan. Anda bisa mendaftarkan diri Anda dan orang tua secara bersamaan. Dengan cara ini, Anda tetap mendahulukan niat haji untuk diri sendiri namun tetap mewujudkan impian orang tua.
Selain itu, pastikan Anda berkonsultasi mengenai teknis pendaftaran dengan tim Duha Wisata agar mendapatkan jadwal keberangkatan yang paling memungkinkan untuk keluarga. Niat tulus Anda untuk membahagiakan orang tua insya Allah akan dimudahkan jalannya oleh Allah SWT selama tetap berada dalam koridor hukum yang benar.
Kesimpulan
Jawaban atas dilema menghajikan orang tua atau diri sendiri adalah tetap mengutamakan haji untuk diri sendiri terlebih dahulu. Setelah kewajiban Anda gugur, barulah Anda memiliki keabsahan syar’i untuk menghajikan orang lain atau orang tua. Mari rencanakan perjalanan suci Anda dengan ilmu dan persiapan matang bersama Duha Wisata.